PortalArjuna.net, Pasuruan – Pound Inggris terus melemah terhadap dolar AS dan mata uang utama lainnya, dengan Deutsche Bank merekomendasikan penjualan pound dalam laporan terbarunya. Pelemahan ini mencerminkan ketidakpastian ekonomi domestik yang semakin mendalam, yang dipicu oleh inflasi yang tetap tinggi dan angka pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dibandingkan dengan negara-negara besar lainnya. Meskipun Bank of England telah berusaha untuk meredakan tekanan inflasi dengan menaikkan suku bunga, kebijakan moneter yang lebih hati-hati dan tidak seagresif yang diharapkan pasar menyebabkan pasar semakin khawatir terhadap prospek ekonomi Inggris. Hal ini menyebabkan penguatan lebih lanjut pada dolar AS, yang menjadi pilihan utama para investor dalam mencari aset yang lebih stabil.
Situasi ini diperburuk oleh ketidakpastian politik yang terus menghinggapi Inggris, baik terkait dengan kebijakan dalam negeri maupun dampak dari hubungan perdagangan pasca-Brexit. Selain itu, dampak krisis energi global dan lonjakan biaya hidup turut menambah beban bagi ekonomi Inggris, yang semakin memperburuk prospek mata uang pound. Seiring dengan itu, pasar global yang cenderung lebih berhati-hati juga berisiko memperburuk arus keluar modal dari Inggris. Dengan kondisi ini, banyak investor yang mulai mengalihkan investasinya ke mata uang yang lebih stabil, seperti dolar AS, yang tetap menunjukkan penguatan.
Penguatan dolar ini semakin memperburuk posisi pound, dan dengan proyeksi ekonomi Inggris yang tidak terlalu cerah dalam beberapa bulan mendatang, banyak analis yang memprediksi bahwa pound akan terus tertekan. Untuk itu, banyak yang menyarankan para investor untuk berhati-hati dalam memilih aset yang berisiko terkait dengan pound, mengingat kondisi yang terus memburuk. Sebagian besar investor sekarang lebih memilih untuk berinvestasi dalam mata uang yang dipandang lebih aman dan stabil, sementara ekspektasi terhadap kebijakan moneter lebih lanjut dari Bank of England tetap menjadi fokus utama yang dapat mempengaruhi pergerakan pound.
Author : Bintang Maulana









