Portalarjuna.net, Sidoarjo — Suasana ruang guru SMP Wahid Hasyim 9 Sedati tampak berbeda pada Jumat (21/11) siang itu. Setelah bel terakhir berbunyi, para guru tidak langsung berkemas pulang. Mereka justru membuka buku catatan, menyiapkan lembar kertas, dan mulai berdiskusi. Hari itu, Komunitas Belajar Guru atau Konberu kembali menggelar kegiatan rutinnya: belajar bersama.
Namun, Jumat ini terasa istimewa. Konberu menghadirkan Dr. Muhammad Fadeli, S.Sos., M.Si., dosen Prodi Ilmu Komunikasi FISIP Ubhara Surabaya, untuk membimbing para guru menulis karya ilmiah dan artikel populer. Sebanyak 25 guru mengikuti kegiatan ini dengan antusias.
Kegiatan yang digelar di SMP Wahid Hasyim 9 Sedati, Jalan H. Syukur No. 4 Sedatigede, ini dibuka oleh Kepala Sekolah, A. Suyuti, S.Pd. Ia menegaskan bahwa perkembangan masyarakat dan perubahan kurikulum menuntut guru untuk terus belajar dan beradaptasi.
“Guru harus responsif. Sekolah pun harus memutar otak agar profesionalitas guru terus meningkat,” ujarnya.
Suyuti menilai menghadirkan narasumber berkompeten dapat membantu guru memahami teknik menulis secara cepat dan tepat. Ia juga berharap karya tulis para guru, baik buku maupun opini yang nantinya dipublikasikan, dapat memperkuat citra literat sekolah.
Dalam workshop tersebut, Fadeli mengarahkan para guru untuk menulis pengalaman mengajar di kelas, terutama hal yang berkaitan dengan inovasi, tantangan, dan proses pembelajaran. Menurutnya, kebiasaan menulis perlu terus diasah agar pengalaman guru tidak berhenti sebagai cerita, tetapi terdokumentasi dengan baik.
Para peserta kemudian mengikuti latihan menulis berantai. Setiap guru menuliskan ide pada selembar kertas sesuai tema yang ditentukan, lalu kertas tersebut diteruskan kepada peserta berikutnya untuk melengkapi kalimat. Hasil tulisan dibacakan satu per satu dan langsung mendapat evaluasi dari narasumber.
Salah satu peserta, Ainun Badriyah guru mata pelajaran Biologi mengaku pelatihan ini sangat membantu mengingatkan kembali teknik dan tahapan menulis ilmiah.
“Karena kesibukan mengajar dan administrasi, saya sudah lama tidak menulis. Pelatihan ini seperti penyegaran ulang,” ujarnya.
Berbeda dengan Ainun, M. Yasfin, guru muda di sekolah tersebut, merasa metode workshop yang santai dan dialogis membuat proses belajar lebih menyenangkan. Menurutnya, praktik menulis langsung memudahkan peserta memahami materi dan mendorong mereka lebih berani menuangkan ide.
Di penghujung kegiatan, seluruh peserta sepakat untuk menyusun karya ilmiah sederhana berdasarkan pengalaman terbaik mereka dalam mengajar. Isi karya akan mencakup konteks pembelajaran, suasana kelas, tantangan, solusi, metode dan inovasi, serta refleksi pribadi. Karya tersebut akan dikumpulkan paling lambat 20 Desember 2025, sebelum masuk proses penyuntingan dan dipublikasikan dalam bentuk buku.




















